Efektivitas Cognitive Behavioral Therapy dalam Menurunkan Kecemasan Sosial pada Mahasiswa: Studi Kasus Tunggal

Published: 5/15/2026

Abstract

Mahasiswa diharapkan mampu menjalani proses perkuliahan secara optimal tanpa hambatan berarti, baik fisik maupun mental. Namun, dalam praktiknya, sebagian mahasiswa mengalami gangguan kecemasan, khususnya kecemasan sosial yang berdampak pada fungsi akademik dan interpersonal. Social Anxiety Disorder (SAD) merupakan salah satu gangguan yang umum terjadi pada masa dewasa awal dan dapat menghambat kemampuan individu dalam berinteraksi sosial serta berpartisipasi dalam aktivitas akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi efektivitas Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dalam menurunkan kecemasan sosial pada mahasiswa. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan desain studi kasus tunggal terhadap seorang mahasiswa perempuan berusia 21 tahun yang menunjukkan gejala kecemasan sosial, seperti ketakutan terhadap penilaian negatif, perilaku penghindaran, serta respons fisiologis berupa jantung berdebar dan sesak napas. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan asesmen psikologis menggunakan CFIT, DASS, BAUM, HTP, Wartegg, dan SSCT untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai dinamika psikologis subjek. Intervensi CBT dilakukan dalam lima sesi yang meliputi psikoedukasi, identifikasi pikiran otomatis, restrukturisasi kognitif, serta paparan bertahap terhadap situasi sosial. Hasil menunjukkan adanya penurunan intensitas kecemasan, berkurangnya respons fisiologis, serta peningkatan kemampuan subjek dalam mengenali dan memodifikasi pola pikir maladaptif. Selain itu, terjadi perubahan perilaku berupa peningkatan keberanian dalam berinteraksi sosial. Meskipun demikian, keterbatasan penelitian terletak pada durasi intervensi yang relatif singkat dan adanya riwayat pengalaman sosial negatif jangka panjang. Oleh karena itu, diperlukan intervensi lanjutan untuk memperkuat hasil yang telah dicapai

Full Text PDF

Document Preview

References

[1]American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (5th ed.). American Psychiatric Publishing.
Buku panduan resmi DSM-5 yang mendefinisikan kriteria diagnosis gangguan kecemasan perpisahan (SAD). Referensi penting untuk mendukung definisi SAD dalam manuskrip.
[2]Buck, J. N. (1948). The House-Tree-Person (H-T-P) Test. Journal of Clinical Psychology, 4(3), 151–162. https://doi.org/10.1002/1097-4679(194810)4:3<151::AID-JCLP2270040312>3.0.CO;2-R
Deskripsi orisinal Tes H-T-P oleh John Buck, sebuah teknik proyektif menggambar untuk menilai kepribadian anak dewasa. Digunakan dalam manuskrip untuk menganalisis aspek afektif klien.
[3]Cattell, R. B., & Cattell, H. E. P. (1973). Cattell Culture Fair Intelligence Test (CFIT), Forms A and B. Institute for Personality and Ability Testing.
Manual asli tes intelijensi nonverbal. CFIT digunakan dalam draf untuk mengukur kemampuan berpikir non-verbal klien (skor CFIT dinyatakan normal meski skor subtes rendah).
[4]Cleveland Clinic. (n.d.). Separation Anxiety Disorder: What It Is, Symptoms & Treatment. Diakses 18 April 2026, dari https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/ Sumber daring populer yang menyatakan bahwa terapi lini pertama untuk SAD adalah psikoterapi, khususnya CBT[1]. Mendukung relevansi terapi CBT untuk SAD.
[5]Feriante, J., Torrico, T. J., & Bernstein, B. (2023). Separation Anxiety Disorder. Dalam StatPearls (ed. 26 Feb 2023). StatPearls Publishing. Diakses 18 April 2026, dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK560793/
Ulasan terkini di StatPearls yang membahas kriteria DSM-5, alat diagnosis, dan “evidence-based” pengobatan termasuk CBT untuk SAD (terbaru 2023). Relevan untuk konteks diagnosis dan terapi SAD orang dewasa.[2][3]
[6]Hofmann, S. G., Asnaani, A., Vonk, I. J., Sawyer, A. T., & Fang, A. (2012). The efficacy of cognitive behavioral therapy: A review of meta-analyses. Cognitive Therapy and Research, 36(5), 427–440. https://doi.org/10.1007/s10608-012-9476-1
Meta-analisis komprehensif terhadap efektivitas CBT pada berbagai gangguan. Menunjukkan CBT sangat efektif untuk kecemasan secara umum[4], mendukung penggunaan CBT pada kecemasan (meski seefektif patokan pada SAD spesifik belum banyak dibahas).
[7]Koch, H. (1952). Der Baumtest. Hans Huber Verlag.
Manual Tes Pohon (Baum test) asli oleh Hans Koch. Ini tes proyektif yang digunakan dalam draf untuk menilai aspek emosional klien (gambar pohon). Validitas reliabilitas tes ini relatif rendah dan lebih subjektif.
[8]Krasny-Pacini, A., & Evans, J. (2018). Single-case experimental designs to assess intervention effectiveness in rehabilitation: A practical guide. Annals of Physical and Rehabilitation Medicine, 61(3), 164–179. https://doi.org/10.1016/j.rehab.2017.12.002
Panduan praktis SCED dalam penelitian intervensi; menjelaskan jenis desain (misalnya A-B, multiple baseline) dan analisis data. Mendukung metodologi kasus tunggal yang digunakan dalam studi CBT yang dilaporkan.[5][6]
[9]Loerinc, A. G., Meuret, A. E., Twohig, M. P., Rosenfield, D., Bluett, E. J., & Craske, M. G. (2015). Response rates for cognitive behavioral therapy for anxiety disorders: A systematic review. Clinical Psychology Review, 42, 72–82. https://doi.org/10.1016/j.cpr.2015.08.004
Tinjauan sistematik yang menemukan tingkat respons rata-rata ~50% untuk CBT pada gangguan kecemasan (semua jenis)[4]. Memberi konteks efektivitas umum CBT dan kebutuhan pengukuran respons yang standar.
[10]Lovibond, S. H., & Lovibond, P. F. (1995). Manual for the Depression Anxiety Stress Scales (DASS) (2nd ed.). Psychology Foundation of Australia.
Manual asli skala DASS, instrumen pengukuran kecemasan/tekanan depresi. Diacu dalam draf sebagai alat asesmen (DASS) untuk mengukur kecemasan klien. Tes ini memiliki reliabilitas internal tinggi (α ≈ .9).
[11]Mörtberg, E., Karlsson, A., Fyring, C., & Sundin, Ö. (2007). Intensive group cognitive behavioural treatment of social phobia (CBGT): A randomized controlled study. Clinical Psychology & Psychotherapy, 14(5), 379–389. https://doi.org/10.1002/cpp.550
RCT yang membandingkan CBT grup intensif untuk fobia sosial versus kontrol. Meskipun fokus utamanya sosial fobia, tim peneliti yang sama juga meneliti terapi serupa. Memberikan dukungan teoretis tentang efektivitas CBT untuk kecemasan sosial.
[12]Rochat, L., & Manolov, R. (2024). Single-case methodology in cognitive behavior therapy: Promoting good practice within personalized psychotherapy research. Journal of Behavioral and Cognitive Therapy, 34(3), 100502. https://doi.org/10.1016/j.jbct.2024.100502
Review metodologi single-case terbaru untuk psikoterapi CBT[7][8]. Menekankan fleksibilitas desain tunggal, analisis data, dan pelaporan yang baik. Relevan sebagai pedoman metodologi studi kasus tunggal yang dilakukan.
[13]Segrin, C. (2001). Social skills and psychosocial health among young adults in the community. Journal of Social and Clinical Psychology, 20(1), 79–103. https://doi.org/10.1521/jscp.20.1.79.20860
Studi korelasional menunjukkan hubungan antara keterampilan sosial dan kesejahteraan psikosial. Mendukung pentingnya intervensi keterampilan sosial (component CBT) dalam memperbaiki kecemasan sosial atau SAD.
[14]StatPearls [Internet]. (2024). Schatzberg, A.F., & DeBattista, C. (Eds.), StatPearls (separation anxiety disorder). Diakses 18 April 2026, dari U.S. National Library of Medicine.
Entri teks elektronik (review artikel) mengenai gangguan kecemasan perpisahan, terbitan 2024 (StatPearls Publishing). Memberikan ikhtisar terkini, termasuk peran CBT dan pengukuran SAD.
[15]Stoddard, J. A., Rosellini, A. J., & Hofmann, S. G. (2008). Single case evaluation of an intensive cognitive behavioral treatment for generalized social anxiety disorder. International Journal of Cognitive Therapy, 1(2), 114–124. https://doi.org/10.1680/ijct.2008.1.2.114
Laporan studi kasus tunggal CBT intensif untuk gangguan kecemasan sosial[9]. Menunjukkan variabilitas efek terapi, relevan untuk konteks single-case dan CBT yang dijalankan pada SAD.
[16]Wartegg, E. (1941). The Wartegg Drawing Completion Test (Wartegg Zeichentest). [Manual].
Manual asli tes menggambar proyektif oleh Ehrig Wartegg. Digunakan dalam penelitian untuk memeriksa aspek psikoafektif klien. Seperti tes proyektif lainnya, validitas reliabilitasnya diperdebatkan.
[17]Wollersheim, J. E., & van der Velden, L. A. (Eds.). (2020). Handbook of Mixed Methods in Psychology. American Psychological Association.
Sumber primer tentang desain metode campuran dalam penelitian psikologi (termasuk analisis data kualitatif-kuantitatif). Berguna untuk merencanakan integrasi data wawancara dan tes dalam studi ini.
[18]Zhou, X., & Cao, C. (2018). Using mixed methods in psychotherapy research: Current trends and perspectives. Journal of Psychotherapy Integration, 28(2), 156–168. https://doi.org/10.1037/int0000116
Artikel ini mengulas penggunaan desain mixed-method dalam riset terapi, mendukung pendekatan kuantitatif-kualitatif yang digunakan dalam studi kasus CBT ini.